Refleksi Budaya Candi Borobudur untuk Menyusun RPP Berbasis Etnomatematika
Marsigit-Siti Efiana-UNY
Dalam bahasan
kali ini, saya akan membahas mengenai kegiatan di tempat bersejarah. Dalam satu
kelas yang terdiri dari 21 orang, kami dibagi menjadi 3 kelompok, kelompok
pertama mengunjungi Keraton Yogyakarta kelompok dua mengunjungi Candi Borobudur
dan kelompok tiga mengunjungi Candi Prambanan. Kami diberi tugas untuk
mengeksplor budaya di tempat tersebut dan menyusun RPP (Rencana Pelaksaan
Pembelajaran) berbasis etnomatematika sesuai tempat masing-masing.
Saya dan
teman-teman kelompok 2 mengunjungi Candi Borobudur pada hari Jum’at, 13 April 2018.
Dengan biaya retribusi sebesar empat puluh ribu rupiah per orang, kami sudah
bisa menikmati keindahan Candi Borobudur. Di candi ini, terdapat banyak benda
yang bisa dijadikan konteks pembelajaran matematika, misalkan untuk bangun
geometri, transformasi geometri, luas, volume, dan lain-lain.
Topik yang saya pilih untuk menyusun RPP adalah materi
volume kerucut untuk kelas tiga SMP. Untuk mendapatkan benda-benda untuk
konteks materi ini, saya mengelilingi candi Borobudur hingga ke bagian atas. Berikut
adalah gambar-gambar yang bisa digunakan untuk materi volume kerucut.
Saat
menyusun RPP ini, saya masih membutuhkan waktu cukup lama untuk membuat Lembar
Kerja Peserta Didik (LKPD) karena memang membuat konteks yang bisa mudah
dipahami siswa dan memancing keingintahuan siswa itu bukanlah hal yang mudah.
Pembuat RPP, harus bisa membayangkan dirinya menjadi seorang siswa sehingga
tujuan pembelajaran bisa tercapai. Selain itu, pemilihan metode pembelajaran juga
sangat penting, karena tidak semua metode bisa diterapkan dalam suatu materi.
Untuk RPP kali ini, saya menggunakan pendekatan saintifik berbasis
etnomatematika yang menggunakan unsur budaya, yaitu candi Borobudur.
Etnomatematika ini hampir mirip dengan Pendidikan Matematika Realistik (PMR)
karena sama-sama menggunakan konteks nyata, sedangkan perbedaan keduanya adalah
etnomatematika menggunakan konteks berbasis budaya, sedangkan PMR tidak harus
menggunakan konteks budaya.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar