Minggu, 27 Mei 2018

Ketoprak dan Etnomatematika dalam Ketoprak Rembulan Kekalang



Siti Efiana
P Matematika I 2015
15301241029
Ketoprak

Disarikan dari Buku Ketoprak Orde Baru karya Kartodirdjo, S, dkk*
*  Kartodirdjo, S., Sudyarsana, H. K., Mintardja, S., Soemanto, B., Widayat, Kristanto, J., et al. (1997). Ketoprak Orde Baru. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya

Indonesia adalah suatu Negara yang kaya akan budaya. Seni Budaya adalah bentuk imajinatif yang mencipta dan meneruskan makna dari kehidupan masyarakat.  Seniman menciptakan bentuk yang memungkinkan keikutsertaan masyarakat. Salah satu budaya Indonesia adalah Budaya Jawa yang terdiri dari banyak macam, seperti ketoprak, wayang, batik, tembang-tembang, dan lain-lain. Dalam bahasan kali ini, penulis akan lebih fokus pada ketoprak.
Ketoprak sebagai kesenian rakyat tradisional sampai sekarang masih digemari masyarakat terutama di Jawa Tengah dan DIY. Ketoprak berusaha menyesuaikan selera/kesenangan masyarakat penggemarnya sehingga perkembangan kesenian ketoprak luwes. Pentas ketoprak awalnya di halaman rumah, yakni pada masa Ketoprak engkek, kemudian ketoprak tanggapan untuk para bangsawan, ketoprak keliling di panggung, ketoprak radio, televisi.
Sejak kelahiran Ketoprak pada tahun 1887 hingga saat ini, bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa. Ragam-ragam bahasa yang digunakan tersebut untuk membangun dan membentuk suasana dan lakon agar menambah keserasian dan menarik. Kemudian, beberapa ragam bahasa memberikan petunjuk watak, darah keturunan, kedudukan, dan latar belakang status sosial tokoh dalam lakon.
Dalam ketoprak, lakon-lakon yang dibawakan juga sangat sederhana. Hanya menceritakan kehidupan petani sehari-hari dan dipentaskan di pelataran rumah-rumah petama dengan lesung sebagai pengiring. Kemudian, lakon-lakon berkembang menjadi bersumber dari cerita-cerita sejarah, babad, legenda, dan fiksi.
Pada mulanya, ketoprak tidak mempergunakan naskah. Segala sesuatunya dilakukan secara spontan atau improvisasi sehingga segala sesuatu yang menyangkut pertunjukan lakon ketoprak akan bergantung dari para pemainnya. Seiring berjalannya waktu, ketoprak pun dibuat naskahnya, fungsi dalang selanjutnya disebut sutradara hanya memilih dan menyusun cerita yang akan dipentaskan.
Pada umumnya, penulis naskah membagi naskah lakon ketoprak menjadi beberapa babak, sedangkan babak itu pun masih pula dibagi menjadi beberapa adegan. Terdapat 2 sistem dialog dalam ketoprak, yaitu nyanyian atau tembang dan dialog konvensional verbal.
Seiring perkembangan zaman, seni rakyat, termasuk ketoprak terus menerus mengalami pergeseran. Bermula dari statusnya sebagai wahana masyarakat pinggiran yang kemudian berganti menjadi penjaga gerbang budaya dan sekarang beralih sebagai aset wisata. Pergeseran itu semakin nyata dengan munculnya televisi. Tayangan televisi sekarang kebanyakan berupa sinetron dan film, hanya TVRI dan beberapa stasiun TV lokal saja yang masih menampilkan ketoprak TVRI sehingga ketoprak pun semakin ditinggalkan dan sepi peminat. Padahal dari ketoprak adalah budaya yang patut dilestarikan karena banyak nilai moral yang bisa diambil darinya. Oleh karena itu, hendaknya ketoprak harus diolah secara kreatif dan harus menyesuaikan dengan tuntutan teknolgi modern agar masyarakat tetap mendukung dan berminat menyaksikan atau mendengar sajian ketoprak.
Etnomatematika dalam Ketoprak “Rembulan Kekalang“
Rabu, 9 Mei 2018
A.      Kaitannya dengan materi pembelajaran
      Dalam latar panggung ketoprak ini, ada beberapa benda yang bisa dijadikan visualisasi dalam pembelajaran matematika, diantaranya singgasana kerajaan di Scene 1 yang bisa dijadikan contoh refleksi dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Scene 2, juga terdapat refleksi dari singgasana kerajaan yang berwarna hijau.


Kemudian Scene 3, terdapat refleksi dari singgasana kerajaan yang berwarna merah.
Selain itu, terdapat banyak benda geometri dalam perlengkapan panggung, diantaranya balok, parabola, silinder, kerucut, persegi panjang, dll.
B.      Kaitannya dengan Pembelajaran
      Dengan menonton Rembulan Kekalang, di mana setiap peran harus menghayati peran masing-masing, hal yang bisa dipetik adalah sebagai seorang Guru kita juga harus mencoba menghayati sebagai seorang siswa agar bisa memahami bagaimana karakter dan bagaimana strategi yang tepat untuk mengajar.
C.      Kaitannya dengan Kehidupan
      Dari adegan-adegan Ketoprak Rembulan Kekalang ini, saya belajar bahwa kita harus senantiasa berikhtiar, bertawakal, bersyukur, dan minta ampun pada Allah. Jangan sampai kita termakan oleh hasutan Setan dan jangan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginan kita. Yakinlah bahwa apa-apa yang menjadi rezeki kita pasti akan datang menghampiri.
      Selain itu, dari ketoprak ini, saya juga belajar mengenai tata karma, unggah-ungguh yang ditampilkan dalam adegan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar