Siti Efiana
P Matematika I 2015
15301241029
Ketoprak
Disarikan dari
Buku Ketoprak Orde Baru karya Kartodirdjo, S, dkk*
* Kartodirdjo, S., Sudyarsana, H. K., Mintardja, S.,
Soemanto, B., Widayat, Kristanto, J., et al. (1997). Ketoprak Orde Baru.
Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya
Indonesia
adalah suatu Negara yang kaya akan budaya. Seni Budaya adalah bentuk imajinatif
yang mencipta dan meneruskan makna dari kehidupan masyarakat. Seniman menciptakan bentuk yang memungkinkan
keikutsertaan masyarakat. Salah satu budaya Indonesia adalah Budaya Jawa yang
terdiri dari banyak macam, seperti ketoprak, wayang, batik, tembang-tembang,
dan lain-lain. Dalam bahasan kali ini, penulis akan lebih fokus pada ketoprak.
Ketoprak
sebagai kesenian rakyat tradisional sampai sekarang masih digemari masyarakat
terutama di Jawa Tengah dan DIY. Ketoprak berusaha menyesuaikan
selera/kesenangan masyarakat penggemarnya sehingga perkembangan kesenian
ketoprak luwes. Pentas ketoprak awalnya di halaman rumah, yakni pada masa
Ketoprak engkek, kemudian ketoprak tanggapan untuk para bangsawan, ketoprak
keliling di panggung, ketoprak radio, televisi.
Sejak
kelahiran Ketoprak pada tahun 1887 hingga saat ini, bahasa yang digunakan
adalah bahasa Jawa. Ragam-ragam bahasa yang digunakan tersebut untuk membangun
dan membentuk suasana dan lakon agar menambah keserasian dan menarik. Kemudian,
beberapa ragam bahasa memberikan petunjuk watak, darah keturunan, kedudukan,
dan latar belakang status sosial tokoh dalam lakon.
Dalam ketoprak,
lakon-lakon yang dibawakan juga sangat sederhana. Hanya menceritakan kehidupan
petani sehari-hari dan dipentaskan di pelataran rumah-rumah petama dengan
lesung sebagai pengiring. Kemudian, lakon-lakon berkembang menjadi bersumber
dari cerita-cerita sejarah, babad, legenda, dan fiksi.
Pada mulanya,
ketoprak tidak mempergunakan naskah. Segala sesuatunya dilakukan secara spontan
atau improvisasi sehingga segala sesuatu yang menyangkut pertunjukan lakon
ketoprak akan bergantung dari para pemainnya. Seiring berjalannya waktu,
ketoprak pun dibuat naskahnya, fungsi dalang selanjutnya disebut sutradara
hanya memilih dan menyusun cerita yang akan dipentaskan.
Pada umumnya,
penulis naskah membagi naskah lakon ketoprak menjadi beberapa babak, sedangkan
babak itu pun masih pula dibagi menjadi beberapa adegan. Terdapat 2 sistem
dialog dalam ketoprak, yaitu nyanyian atau tembang dan dialog konvensional
verbal.
Seiring
perkembangan zaman, seni rakyat, termasuk ketoprak terus menerus mengalami
pergeseran. Bermula dari statusnya sebagai wahana masyarakat pinggiran yang
kemudian berganti menjadi penjaga gerbang budaya dan sekarang beralih sebagai
aset wisata. Pergeseran itu semakin nyata dengan munculnya televisi. Tayangan
televisi sekarang kebanyakan berupa sinetron dan film, hanya TVRI dan beberapa
stasiun TV lokal saja yang masih menampilkan ketoprak TVRI sehingga ketoprak
pun semakin ditinggalkan dan sepi peminat. Padahal dari ketoprak adalah budaya
yang patut dilestarikan karena banyak nilai moral yang bisa diambil darinya.
Oleh karena itu, hendaknya ketoprak harus diolah secara kreatif dan harus
menyesuaikan dengan tuntutan teknolgi modern agar masyarakat tetap mendukung
dan berminat menyaksikan atau mendengar sajian ketoprak.
Etnomatematika dalam
Ketoprak “Rembulan Kekalang“
Rabu, 9 Mei 2018
A.
Kaitannya
dengan materi pembelajaran
Dalam
latar panggung ketoprak ini, ada beberapa benda yang bisa dijadikan visualisasi
dalam pembelajaran matematika, diantaranya singgasana kerajaan di Scene 1 yang
bisa dijadikan contoh refleksi dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Scene
2, juga terdapat refleksi dari singgasana kerajaan yang berwarna hijau.

Kemudian
Scene 3, terdapat refleksi dari singgasana kerajaan yang berwarna merah.

Selain itu, terdapat banyak benda geometri dalam
perlengkapan panggung, diantaranya balok, parabola, silinder, kerucut, persegi
panjang, dll.
B.
Kaitannya
dengan Pembelajaran
Dengan
menonton Rembulan Kekalang, di mana setiap peran harus menghayati peran
masing-masing, hal yang bisa dipetik adalah sebagai seorang Guru kita juga
harus mencoba menghayati sebagai seorang siswa agar bisa memahami bagaimana
karakter dan bagaimana strategi yang tepat untuk mengajar.
C.
Kaitannya
dengan Kehidupan
Dari
adegan-adegan Ketoprak Rembulan Kekalang ini, saya belajar bahwa kita harus
senantiasa berikhtiar, bertawakal, bersyukur, dan minta ampun pada Allah.
Jangan sampai kita termakan oleh hasutan Setan dan jangan menghalalkan segala
cara untuk mendapatkan keinginan kita. Yakinlah bahwa apa-apa yang menjadi
rezeki kita pasti akan datang menghampiri.
Selain
itu, dari ketoprak ini, saya juga belajar mengenai tata karma, unggah-ungguh
yang ditampilkan dalam adegan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar