Minggu, 03 Juni 2018

Refleksi Budaya Candi Borobudur untuk Menyusun RPP Berbasis Etnomatematika (Marsigit-Siti Efiana-UNY)


Refleksi Budaya Candi Borobudur untuk Menyusun RPP Berbasis Etnomatematika 
Marsigit-Siti Efiana-UNY

Selama perkuliahan sejak Selasa, 6 Februari 2018 – Selasa,15 Mei 2018, kami melaksanakan beberapa kegiatan di luar kelas, yaitu melalui menonton wayang di Musem Sonobudoyo, mengunjungi tempat bersejarah (Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Keraton Yogyakarta), menonton Dalang Cilik di depan rektorat, dan terakhir menonton Ketoprak “Rembulan Kekalang” di Auditorium.
Dalam bahasan kali ini, saya akan membahas mengenai kegiatan di tempat bersejarah. Dalam satu kelas yang terdiri dari 21 orang, kami dibagi menjadi 3 kelompok, kelompok pertama mengunjungi Keraton Yogyakarta kelompok dua mengunjungi Candi Borobudur dan kelompok tiga mengunjungi Candi Prambanan. Kami diberi tugas untuk mengeksplor budaya di tempat tersebut dan menyusun RPP (Rencana Pelaksaan Pembelajaran) berbasis etnomatematika sesuai tempat masing-masing.
Saya dan teman-teman kelompok 2 mengunjungi Candi Borobudur pada hari Jum’at, 13 April 2018. Dengan biaya retribusi sebesar empat puluh ribu rupiah per orang, kami sudah bisa menikmati keindahan Candi Borobudur. Di candi ini, terdapat banyak benda yang bisa dijadikan konteks pembelajaran matematika, misalkan untuk bangun geometri, transformasi geometri, luas, volume, dan lain-lain.
                Topik yang saya pilih untuk menyusun RPP adalah materi volume kerucut untuk kelas tiga SMP. Untuk mendapatkan benda-benda untuk konteks materi ini, saya mengelilingi candi Borobudur hingga ke bagian atas. Berikut adalah gambar-gambar yang bisa digunakan untuk materi volume kerucut.







               
                Saat menyusun RPP ini, saya masih membutuhkan waktu cukup lama untuk membuat Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) karena memang membuat konteks yang bisa mudah dipahami siswa dan memancing keingintahuan siswa itu bukanlah hal yang mudah. Pembuat RPP, harus bisa membayangkan dirinya menjadi seorang siswa sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai. Selain itu, pemilihan metode pembelajaran juga sangat penting, karena tidak semua metode bisa diterapkan dalam suatu materi. Untuk RPP kali ini, saya menggunakan pendekatan saintifik berbasis etnomatematika yang menggunakan unsur budaya, yaitu candi Borobudur. Etnomatematika ini hampir mirip dengan Pendidikan Matematika Realistik (PMR) karena sama-sama menggunakan konteks nyata, sedangkan perbedaan keduanya adalah etnomatematika menggunakan konteks berbasis budaya, sedangkan PMR tidak harus menggunakan konteks budaya.
                Berikut adalah RPP yang saya susun :) semoga bermanfaat.

Minggu, 27 Mei 2018

Ketoprak dan Etnomatematika dalam Ketoprak Rembulan Kekalang



Siti Efiana
P Matematika I 2015
15301241029
Ketoprak

Disarikan dari Buku Ketoprak Orde Baru karya Kartodirdjo, S, dkk*
*  Kartodirdjo, S., Sudyarsana, H. K., Mintardja, S., Soemanto, B., Widayat, Kristanto, J., et al. (1997). Ketoprak Orde Baru. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya

Indonesia adalah suatu Negara yang kaya akan budaya. Seni Budaya adalah bentuk imajinatif yang mencipta dan meneruskan makna dari kehidupan masyarakat.  Seniman menciptakan bentuk yang memungkinkan keikutsertaan masyarakat. Salah satu budaya Indonesia adalah Budaya Jawa yang terdiri dari banyak macam, seperti ketoprak, wayang, batik, tembang-tembang, dan lain-lain. Dalam bahasan kali ini, penulis akan lebih fokus pada ketoprak.
Ketoprak sebagai kesenian rakyat tradisional sampai sekarang masih digemari masyarakat terutama di Jawa Tengah dan DIY. Ketoprak berusaha menyesuaikan selera/kesenangan masyarakat penggemarnya sehingga perkembangan kesenian ketoprak luwes. Pentas ketoprak awalnya di halaman rumah, yakni pada masa Ketoprak engkek, kemudian ketoprak tanggapan untuk para bangsawan, ketoprak keliling di panggung, ketoprak radio, televisi.
Sejak kelahiran Ketoprak pada tahun 1887 hingga saat ini, bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa. Ragam-ragam bahasa yang digunakan tersebut untuk membangun dan membentuk suasana dan lakon agar menambah keserasian dan menarik. Kemudian, beberapa ragam bahasa memberikan petunjuk watak, darah keturunan, kedudukan, dan latar belakang status sosial tokoh dalam lakon.
Dalam ketoprak, lakon-lakon yang dibawakan juga sangat sederhana. Hanya menceritakan kehidupan petani sehari-hari dan dipentaskan di pelataran rumah-rumah petama dengan lesung sebagai pengiring. Kemudian, lakon-lakon berkembang menjadi bersumber dari cerita-cerita sejarah, babad, legenda, dan fiksi.
Pada mulanya, ketoprak tidak mempergunakan naskah. Segala sesuatunya dilakukan secara spontan atau improvisasi sehingga segala sesuatu yang menyangkut pertunjukan lakon ketoprak akan bergantung dari para pemainnya. Seiring berjalannya waktu, ketoprak pun dibuat naskahnya, fungsi dalang selanjutnya disebut sutradara hanya memilih dan menyusun cerita yang akan dipentaskan.
Pada umumnya, penulis naskah membagi naskah lakon ketoprak menjadi beberapa babak, sedangkan babak itu pun masih pula dibagi menjadi beberapa adegan. Terdapat 2 sistem dialog dalam ketoprak, yaitu nyanyian atau tembang dan dialog konvensional verbal.
Seiring perkembangan zaman, seni rakyat, termasuk ketoprak terus menerus mengalami pergeseran. Bermula dari statusnya sebagai wahana masyarakat pinggiran yang kemudian berganti menjadi penjaga gerbang budaya dan sekarang beralih sebagai aset wisata. Pergeseran itu semakin nyata dengan munculnya televisi. Tayangan televisi sekarang kebanyakan berupa sinetron dan film, hanya TVRI dan beberapa stasiun TV lokal saja yang masih menampilkan ketoprak TVRI sehingga ketoprak pun semakin ditinggalkan dan sepi peminat. Padahal dari ketoprak adalah budaya yang patut dilestarikan karena banyak nilai moral yang bisa diambil darinya. Oleh karena itu, hendaknya ketoprak harus diolah secara kreatif dan harus menyesuaikan dengan tuntutan teknolgi modern agar masyarakat tetap mendukung dan berminat menyaksikan atau mendengar sajian ketoprak.
Etnomatematika dalam Ketoprak “Rembulan Kekalang“
Rabu, 9 Mei 2018
A.      Kaitannya dengan materi pembelajaran
      Dalam latar panggung ketoprak ini, ada beberapa benda yang bisa dijadikan visualisasi dalam pembelajaran matematika, diantaranya singgasana kerajaan di Scene 1 yang bisa dijadikan contoh refleksi dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Scene 2, juga terdapat refleksi dari singgasana kerajaan yang berwarna hijau.


Kemudian Scene 3, terdapat refleksi dari singgasana kerajaan yang berwarna merah.
Selain itu, terdapat banyak benda geometri dalam perlengkapan panggung, diantaranya balok, parabola, silinder, kerucut, persegi panjang, dll.
B.      Kaitannya dengan Pembelajaran
      Dengan menonton Rembulan Kekalang, di mana setiap peran harus menghayati peran masing-masing, hal yang bisa dipetik adalah sebagai seorang Guru kita juga harus mencoba menghayati sebagai seorang siswa agar bisa memahami bagaimana karakter dan bagaimana strategi yang tepat untuk mengajar.
C.      Kaitannya dengan Kehidupan
      Dari adegan-adegan Ketoprak Rembulan Kekalang ini, saya belajar bahwa kita harus senantiasa berikhtiar, bertawakal, bersyukur, dan minta ampun pada Allah. Jangan sampai kita termakan oleh hasutan Setan dan jangan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginan kita. Yakinlah bahwa apa-apa yang menjadi rezeki kita pasti akan datang menghampiri.
      Selain itu, dari ketoprak ini, saya juga belajar mengenai tata karma, unggah-ungguh yang ditampilkan dalam adegan.





Minggu, 08 April 2018

Jangan sholat tepat waktu, tapi sholatlah awal waktu ..

Aku mau bercerita, kejadian yang kurasa cukup aneh tetapi memberikan pelajaran. Malam itu sehabis magrib, aku pergi ke suatu warnet untuk mengerjakan tugas, sewaktu hampir sampai ke sana, jalan dan bangunan yang kulewati gelap(dan aku tidak suka gelap) sehingga aku sempat terpikir, apakah mati listrik? Namun, kumantabkan hati untuk meneruskan perjalanan.
.
Alhamdulillah, ternyata tidak mati listrik, aku bisa mengerjakan tugas dengan tenang, kemudian, jam 8 malam, aku bersiap-siap untuk pulang, merapikan tas, mempersiapkan pembayaran, kemudian beranjak dari tempatku, sambil berpikir setelah sampai kost akan Sholat Isya'. 
.
Apakah kalian tahu apa yang terjadi? Aku terkesiap, tanpa sadar langkah kakiku malah mengarah ke arah mushola kecil di pojok utara, bukan ke arah kasir yang seharusnya di paling selatan. Benar-benar arah yang berlawanan, apakah ini kebetulan? kurasa tidak. Kurasa ini cara Allah untuk mengingatkanku agar tidak menunda-nunda shalat lagi, bukankah kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi saat aku pulang nanti? :' Tidak ada yang menjamin aku akan sempat untuk Sholat Isya, bisa jadi tiba-tiba aku kecelakaan atau sebagainya. Aku pun kemudian sholat dan bersyukur, terima kasih ya Allah, kau telah mengingatkanku, agar tak hanya sholat tepat waktu, tapi sholat di awal waktu dan tak menunda-nunda. :) Sungguh, jadikanlah aku bagian dari orang-prang yang selalu berada di jalanMu.

03.04.18

Selasa, 03 April 2018

Man Jadda Wajada

Sejatinya hidup adalah sebuah perjalanan, hidup akan membawa kita ke berbagai pilihan, yang tentu saja punya resiko masing-masing. Hidup ini tak selamanya lurus, ada saja kerikil kecil maupun besar yang menghadang. Namun, bukankah hidup memang sebuah perjuangan? :) Maka berjuanglah semampumu, sekuat tenagamu, buatlah mimpi-mimpi, yang akan membuatmu terpacu untuk selalu berusaha dan berusaha. Ingatlah bahwa bukan hanya kamu, tapi banyak orang di dunia ini yang menginginkan sukses, maka bersegeralah! Jangan tunda-tunda, segera lakukan apa-apa yang bisa kamu lakukan sekarang, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada hari esok, tapi pastikan bahwa hari ini akan lebih baik dari kemarin dan hari esok akan lebih dari hari ini. Berjuanglah! Manjadda Wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Terakhir, jangan lupa untuk selalu berdo'a, padaNya, yang Maha mengabulkan permohonan. Sungguh, Allah adalah pencipta skenario terbaik, paling baik.

Jogja, 3.04.18