Tanpa Kata
Karya : Efiana Efi
Lintang.
Aku bicara tanpa kata. Kau pasti
berpikir, bagaimana bisa? Lantas kau berbicara dengan apa? Itu mustahil, tetapi
kau salah, tidak ada yang tak mungkin di dunia ini. Akulah buktinya, aku bicara
tanpa kata. Tetapi aku bicara dengan hati. Hati? Benarkah? Ya, benar. Tepatnya
dengan bahasa yang hanya bisa dipahami oleh orang - orang tertentu.
Ya, kau benar. Aku bicara memakai bahasa
isyarat. Aku memang berbeda. Aku memang punya mulut tapi lidahku kelu setiap
kali aku ingin mengucapkan kata. Entahlah, mungkin Tuhan punya takdir lain
untukku.
***
Disinilah aku sekarang, setiap sore
aku selalu menghabiskan waktu di taman ini. Kau tahu? Aku sedang menunggu
seseorang. Namun, sebenarnya aku sendiri tak yakin apakah dia akan menepati
janjinya.
Mungkin saja,
dia sudah melupakan janji itu, tetapi tidak ada salahnya jika aku menunggunya
bukan? Aku yakin dia pasti kembali. Entah kapan itu.
“Langit. Kapan kau akan kembali? Aku
lelah menunggumu disini,” batinku kembali menangis.
“Aku
lelah langit. Bolehkah aku berhenti berharap?” Ah kenapa napasku sesak lagi?
Aku harus segera pulang. Penyakit ini benar - benar membuatku rapuh.
***
Saat kusendiri, entah mengapa bayanganmu
selalu datang. Entah mengapa, semua kenangan kita kembali menyeruak ke
permukaan. Langit, masih ingatkah kamu? Saat dulu kamu selalu membelaku saat
semua teman - temanmu menggangguku?
Saat itu kau datang bagaikan pahlawan
pembela kebenaran. Kau usir mereka, lalu kau pasti mengajakku ke taman itu.
“Kenapa
kamu masih saja mendekati mereka? Padahal mereka selalu mengganggumu?” tanyamu
dengan nada khawatir. Kuambil pena yang selalu kubawa dan kutuliskan beberapa
rangkai kata.
“Aku hanya ingin berteman dengan mereka.”
“Sudahlah,
mereka itu tak pantas menjadi temanmu. Kamu kan sudah punya aku. Aku akan selalu
menemanimu,” katamu meyakinkanku. Mataku berkaca - kaca. Kamu benar - benar
baik, Langit.
Ah, tiba - tiba air mataku kembali
menetes. Kenapa selalu ada air mata setiap aku mengingatmu Langit? Aku tak
pernah menyangka itu pertemuan terakhir kita. Kamu jahat, Langit. Mana janjimu
dulu? Ini sudah 5 tahun langit.
Kenapa kau pergi tanpa mengucapkan apa pun
padaku? Yang kutahu, kamu pergi ke luar kota. Entah kemana, kamu tidak tahu
kan? Sejak saat itu, aku selalu menunggumu di taman ini. Dan aku selalu berharap
kamu akan kembali. Aku selalu berharap kamu akan menepati janjimu.
***
Langit.
“Maafkan
aku Lintang, aku telah membiarkanmu sendirian. Aku tahu, 5 tahun bukan waktu
yang singkat untukmu, tapi aku yakin, kamu akan tetap setia menungguku. Aku akan
kembali, Lintang. Dan ini semua hanya untukmu.”
Aku harus menempuh 5 jam perjalanan
menggunakan kereta untuk mencapai tempat tinggalku yang dulu. Entahlah,
perjalanan 5 jam ini terasa sangat lama. Aku ingin segera menemuimu, Lintang.
Aku merindukanmu, maafkan aku karena telah pergi tanpa pamit. Orang tuaku
pindah rumah, Lintang.
Aku terpaksa mengikuti mereka ke kota.
Aku tahu, Lintang, kepindahan ini terlalu terburu - buru. Bahkan, aku tak
sempat mengucapkan selamat tinggal untukmu. Tapi apa kau tahu, Lintang? Selama
5 tahun ini, tubuhku memang ada di kota. Tapi tidak dengan pikiranku,
bayanganmu selalu menari - nari di pikiranku. Aku selalu cemas memikirkan
keadaanmu.
Apa kau baik - baik saja, Lintang? Apa anak -
anak itu masih mengganggumu? Ah, aku benar - benar merindukanmu. Sosokmu
istimewa Lintang, aku selalu melihat pelangi di mata indahmu itu. Kamu cantik,
Lintang. Meski kau tak bisa mengungkapkan kata. Tapi ada pena yang bisa
mewakilinya.
Di mataku kau begitu sempurna Lintang. 5
jam berlalu tanpa terasa. Ah, memikirkanmu memang membuat waktuku berjalan
cepat. Aku langsung menuju ke taman itu. Entahlah, tiba - tiba saja hatiku
yakin bahwa kamu pasti ada disana. Aku tersenyum saat menyadari kondisi taman
ini tidak berubah sedikit pun.
Masih asri seperti dulu. Kulihat ada
seorang wanita berambut panjang duduk di kursi taman. Segera kudekati wanita
itu, rambutnya lurus dan tergerai indah. Ah, ternyata wanita itu tengah
tertidur, wajahnya begitu damai. Lintang, kau tidak berubah, wajahmu masih cantik
seperti dulu. Sebenarnya, rasa rinduku sudah tak terbendung lagi. Ingin rasanya
kupeluk tubuhmu tuk menghilangkan rasa rindu ini.
Tapi aku tak tega, Lintang. Tidurmu begitu
damai. Pelan - pelan kugerakkan tanganku untuk membelai rambut indahmu. Kamu benar
- benar cantik, Lintang. Tapi tunggu dulu, kenapa badanmu terasa dingin,
Lintang? Aku langsung panik. Kusentuh nadi di tanganmu. Astaga, denyut
jantungmu lemah sekali.
Aku harus menyelamatkanmu. Dengan
langkah tergopoh - gopoh aku langsung membawamu ke rumah sakit. Aku mohon,
Lintang. Bertahanlah, demi aku. Aku resah, aku benar - benar panik. Di dalam
sana dokter sedang berusaha menyelamatkanmu, bertahanlah, Lintang. Aku mohon.
Aku sudah kembali, Lintang. Aku kembali hanya untukmu. 30 menit kemudian, dokter
keluar ruangan dengan wajah sendu.
“Maafkan
kami, nak. Kami sudah berusaha sekuat tenaga. Tapi penyakit asmanya sudah
sangat parah. Kami benar - benar tidak bisa menyelamatkannya.”
“Apa?
Dokter pasti bohong. Dia masih hidup kan, dok? Kenapa selang pernapasannya
dilepas dok? Nanti dia bisa sesak napas lagi,” teriakku. Aku masuk ke
ruangannya dan memasang selang itu lagi.
“Sudahlah, nak. Kamu harus ikhlas,
bagaimana pun ini adalah takdir Tuhan,” kata dokter menenangkanku.
“Lintang.
Kenapa kamu harus pergi secepat ini? Ini aku, Lintang. Aku Langit. Aku sudah
memenuhi janjiku,Lintang. Aku sudah kembali, Lintang. Aku akan menemanimu
seperti janjiku dulu.” suaraku bergetar menahan tangis.
“Maaf
mas, saya cuma mau menyerahkan ini. Tadi saya menemukannya di saku bajunya,”
kata Suster sambil menyerahkan sepucuk surat. Kuambil surat itu, dan mulai
kubaca.
Langit, aku merindukanmu. Aku sudah menunggumu
5 tahun, Langit. Itu bukan waktu yang sebentar. Aku lelah, Langit. Hari ini
napasku terasa sesak tapi kupaksakan untuk datang kesini.
Di
tempat ini aku selalu menunggumu, Langit. Aku yakin kamu akan kembali, entah
kapan. Maafkan aku, Langit. Mungkin ini terakhir kali aku datang kesini. Aku
lelah, Langit.
Aku
putus asa, aku memutuskan untuk berhenti berharap. Hidup ini butuh kepastian,
Langit.
Sudah
cukup 5 tahun ini aku tersiksa karenamu. Izinkan aku, melupakan semua kisah
indah kita. Meski kini, hatiku hanya tinggal separuh. Kau tahu, Langit?
Separuh
hatiku tanpa sengaja telah terbawa olehmu. Aku mencintaimu, Langit.
~
Lintang
End. Thank's for reading. Ditunggu
kritik dan sarannyaJ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar