Minggu, 28 Juni 2015

Cerpen: Rahasia Hati



Rahasia Hati
Karya: Efiana Efi
Dalam keheningan malam, entah mengapa, aku hanya mengingat satu orang. Di antara rintik air hujan, entah mengapa, aku hanya mengingat satu nama. Bukan karena namanya mudah diingat, bukan karena namanya indah, tentu saja bukan karena itu, tapi karena nama itu sudah terlalu lama tersimpan dalam hatiku, benar-benar lama. Sampai-sampai ia telah menjadi prasasti dalam hatiku. Yang bisa jadi tak akan pernah hilang karena sangat sulit untuk menghapusnya. Benar-benar sulit. Bahkan, pisau yang paling tajam pun tak akan sanggup memisahkannya dari hatiku.
Entahlah, mungkin suatu saat nanti, akan kutemukan cara untuk menghilangkannya, benar-benar menghilangkannya, sehingga nama itu benar-benar hilang. Tanpa bekas. Ah. Kenapa harus orang itu, kenapa aku benar-benar sulit untuk menghilangkan bayang-bayangnya? Tapi aku tak bisa membiarkan semuanya terus begini. Aku harus meminta kepastian, aku ini wanita, aku tak bisa menjalani hubungan seperti ini. Tapi bagaimana kalau akhirnya kenyataan tak seindah bayangku? Apa aku bisa benar-benar menghilangkan nama itu dari dalam hatiku? Apa suatu saat nanti rahasia hatinya bisa terkuak?
***
“Dim, aku mau tanya, boleh?” aku ragu-ragu bertanya, sudah lama aku memendam ini semua. Semuanya harus terjawab saat ini juga.
Dimas menatapku heran, dia meletakkan sendok yang dipegangnya. “Tanya apa?” Aku terdiam, perlu keberanian besar untuk menanyakan semua ini. Aku menarik napas, menghembuskannya.
“Kita ini sebenarnya apa? Apa kita cuma teman? Aku ini wanita, aku butuh kejelasan.” Dia tersentak, aku menunduk, kumainkan ujung sedotanku untuk mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba datang. Beberapa detik berlalu dengan lengang, dia terlihat gelisah.
“Vin.” tiba-tiba ia membuka suara, aku mendongak menatap matanya. Memutuskan untuk menunggu kalimatnya lebih lanjut. “Kenapa kamu tanya seperti itu?” Ah, lagi-lagi pertanyaan itu. Kenapa dia selalu mengalihkan perhatian? Kenapa?! Tentu saja karena aku wanita, aku butuh status. Darahku seakan mau mendidih.
 “Sudahlah, aku sudah menduga kalau jawabanmu akan seperti itu,” Ucapku tak senang.
“Hei, jangan marah dulu.”
“Aku lelah, mau pulang saja.”
“Kita kan baru bertemu sebentar,” katanya berusaha mencegahku beranjak.
“Mau apa lagi? Aku capek, ingin pulang.” Dadaku semakin sesak. Napasku mulai naik turun. Aku bergegas melangkah. Dia mengejarku, berusaha mencegahku untuk pergi.
“Aku sudah cukup kenyang dengan kata-kata yang sama terus menerus! Nanti kalau ada kata-kata lain baru temui aku!” kataku keras. Sudah tak dapat kutahan lagi. Dadaku semakin sakit. Napasku memburu satu-satu. Oh Tuhan, kenapa harus kambuh di saat seperti ini? Salahku sendiri, tak menghiraukan perkataan dokter untuk tak mudah terpancing emosi. Aku masih sempat melihatnya panik mengguncang tubuhku yang merosot di jalanan. Lalu semuanya gelap.
***
Pelan - pelan kubuka mataku, bau obat langsung tercium. Aku di rumah sakit? Kupandangi sekelilingku, aku melihatnya tertidur di kursi, wajahnya damai, benar-benar damai. Aku mencintainya sepenuh hatiku, tapi .. aku sendiri tak tahu apa yang dia rasakan terhadapku. Dia selama ini memang perhatian, tapi, dia tak pernah sekali pun mengucapkan kata cinta.
Bahkan, sekedar mengatakan kata-kata indah pun tak pernah. Sosoknya benar-benar tak bisa ditebak. Tapi? Apakah aku bisa terus bertahan? Aku pun butuh kepastian. Kami sudah saling mengenal 5 tahun. Itu bukan waktu yang sebentar. Kupandangi lagi wajahnya, ah, aku benar-benar tak bisa kehilangan Dimas. Aku mengalihkan pandanganku, mencoba menahan air mata yang akan menetes.
“Kamu sudah siuman, Vin?” aku menoleh ke sumber suara, ternyata Dimas sudah bangun, dia tersenyum manis.
“Sudah,” jawabku belagak sok cuek. Dia terdiam, entah apa yang ada di pikirannya. Tak berapa lama, dia beranjak dari tempat duduknya.
“Cepat sembuh ya, Vin. Aku pergi dulu. Aku ada urusan.” Dimas melangkah ke luar. Sedangkan aku terdiam, di saat seperti ini dia meninggalkanku?! Aku ini berarti nggak sih bagi dia?!, Ah sudahlah! Berarti aku memang harus melupakan dia, pikirku dalam hati.
***
 “Vin, nanti sore aku tunggu di taman biasa ya!” Aku terkesiap, menoleh ke sumber suara. Kulihat di sana Dimas tersenyum.
“Mau ngapain?” tanyaku, acuh tak acuh.
“Nanti kamu pasti tahu sendiri. Jam 3 sore oke?” tanyanya penuh harap.
“Ya,” jawabku datar.
“Aku pergi dulu ya! See you. Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikumsalam.”
 Hari itu berlalu seperti biasanya. Meski pun, aku setengah mati berusaha menahan rasa penasaranku, tapi tetap saja masih penasaran.
“Kira-kira nanti ada apa ya?” gumamku seorang diri.
“Hayo mikirin apa?”
Aku tersentak, ah, kiranya aku melamun tadi. “Ah, kamu, Don! Aku kaget tahu!”
 “Haha, maaf-maaf, habisnya sayangku ini dari tadi melamun terus sih! Ada apa sih?” tanyanya dengan nada sok manis, sok imut.
“Idihh, siapa kamu manggil aku sayang-sayang? Jangan kepo deh! Ini bukan urusan kamu!”
“Ah, sayang kok jahat gitu sih sama aku?! Aku kan sayang sama kamu. Aku care sama kamu.”
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuannya, kok ada ya orang seperti ini? Gampang banget bilang cinta, tapi gampang juga buat melupakan. Benar-benar manusia antik deh. Tapi gedeg juga lama-lama. Perasaan baru sebulan lalu dia gencar banget mengejar Liza, temen kerjaku, eh setelah Lizanya nolak dia habis-habisan, dia mendekat ke aku! Illfeel! Orang kayak dia benar-benar buat illfeel deh !
Mending-mending Dimas, walau pun nggak pernah bilang cinta, tapi dia nggak pernah mengumbar cinta ke semua cewek. Hihh, mending aku pergi aja deh! Aku pun melangkah ke luar meninggalkan manusia antik abad ini--Doni.
“Eh sayang kok pergi sih?! Kok akunya dicuekin?” Doni berusaha mengejarku. Mengekor di belakangku. Aku berhenti, menoleh ke belakang. Doni tersenyum.
“Jangan mengekor di belakangku! Aku mau ada urusan!” Senyum Doni menciut, lalu aku meninggalkannya sendirian. Aku mempercepat langkahku, tak berapa lama, aku sampai di taman. Kulihat Dimas sudah duduk di kursi taman.
“Sudah lama?” tanyaku basa basi.
“Nggak, baru aja kok.” Dimas tersenyum. Keheningan tercipta beberapa saat.
“Vin?”
 “Ya.” Aku menoleh ke arahnya. Dimas tersenyum lagi. Ah, ini terasa aneh. Ada apa?!
“Aku mau bilang sesuatu boleh?”
“Tentu saja boleh. Apa?” hatiku semakin berdebar, apa dia mau bilang dia cinta sama aku? Harapanku melambung ke langit.
“Aku minta maaf, selama ini aku selalu diam. Karena aku nunggu saat yang tepat buat bilang ini.” Dia menarik napas. Kulihat dia gugup, aku tak sabar menunggu kalimatnya lebih lanjut.
“Aku tahu kamu sering bertanya-tanya apa hubungan kita. Aku tahu meski pun kadang kamu tanya itu secara nggak langsung. Aku tahu.” Pandangan Dimas lurus ke depan. Aku semakin tidak sabar.
“Lalu apa? Kenapa kamu nggak pernah jawab pertanyaanku? Apa kita ini cuma teman?” Air mataku tak terasa menetes.
Dia menoleh ke arahku, “jangan menangis. Apalagi karena aku.” Pandangan Dimas beralih ke depan lagi. “Aku cuma mau bilang...” Bilang apa, Dim? Bilang apa?
 “Aku mau menikah.” Aku tersentak. Jadi, kami ini cuma teman?! Jadi perhatiannya selama ini cuma sebagai teman?!
“Ka-pan?” tanyaku parau. Kenapa secepat ini?! Jadi penantianku selama ini cuma sia-sia?! Iya sia-sia!!. Rasanya aku seperti terjatuh dari langit, sakit!.
“Secepatnya!” dia tersenyum. Aku tak sanggup lagi. Air mataku mengalir semakin deras. Dia menoleh ke arahku dan tersenyum! Kenapa dia tersenyum?! Kenapa!
“Kenapa kamu tersenyum, Dim? Kamu senang ya melihat aku seperti ini! Iya? Kamu senang kan! Teman macam apa kamu? Apa kamu nggak tahu, aku ini sayang sama kamu, aku cinta sama kamu! Selama ini aku rela menunggu kamu! Tapi apa?! Kamu malah kayak gini! Kenapa kamu nggak bilang dari awal?” Dimas terdiam, aku mengusap air mataku. “Tatap aku, Dim! Jawab aku!” ]
Dimas menoleh ke arahku. “Karena aku belum siap, Vin, aku belum siap.”
“Tapi Dim, kalau kamu bilang dari awal, aku nggak sesakit ini!” Ah. Sial! Dadaku sakit lagi. Bertahan, Vi. Bertahan! “Maaf.” “Maaf? Cuma maaf, ah, sudahlah, aku mau pulang!” aku beranjak dari tempat dudukku.
Dimas menahanku. “Dengarkan aku dulu, Vin!”
“Semua penjelasanmu sudah nggak berarti lagi.” Aku mengusap air mataku. Mencoba menahan rasa sakit di hatiku. Melangkah pergi!
“Vin!” Dimas berteriak. Aku tetap berjalan menjauhinya. Dia berlari mengejarku, berlutut di depanku. “Will you marry me?!” katanya sambil mengulurkan sebuah kotak berisi cincin. Aku terdiam, apa maksudnya ini?! Bukankah dia akan menikah?
“Maksud kamu apa?!” tanyaku dengan nada tinggi.
Dimas tersenyum. “Aku memang akan menikah, tapi aku akan menikah dengan orang yang cantik, baik, yang selama 5 tahun ini setia mendampingi aku. Setia mendengar keluh kesahku. Dan orang itu kamu. Will you marry me?” Aku? Dia melamarku? Aku lagi nggak mimpi kan? Kucubit pipiku. Sakit.
“Kamu melamar aku? Jadi, selama ini kamu juga cinta sama aku?”
Dimas mengangguk, “Iya. Aku cinta sama kamu, bahkan, sejak kita pertama kali bertemu. Tapi aku menunggu saat yang tepat untuk ini semua. Aku mempersiapkan diriku untuk orang sebaik kamu. Kita sudah dewasa, nggak ada waktu buat pacaran, yang notabennya cuma main-main saja. Aku yakin bahwa kamu adalah calon istri yang baik. Yang sholehah, karena itu aku memilihmu. Aku cinta kamu karena Allah. Aku minta maaf ya, aku waktu itu meninggalkan kamu di rumah sakit. Waktu itu aku sedang mempersiapkan semuanya. Terutama mempersiapkan cincin ini.” Aku terdiam, bingung mau berkata apa, semua ini benar-benar membahagiakan untukku. Rasa sesak di dadaku seperti menguap begitu saja. “Will you marry me, Vin?” tanyanya sekali lagi.
 “Yes, i will,” Jawabku mantap. Aku tersenyum, dia pun juga. Saat aku menerima cincin darinya, tiba-tiba ada suara tepuk tangan di belakangku. Aku menoleh, kulihat di sana ada banyak orang, termasuk kedua orang tua kami. Mataku membulat tak percaya.
“Kami sudah lihat semuanya lho, kisah cinta kalian benar-benar mengharukan. Terutama kejadian barusan!” Papaku menyeka kedua matanya yang berair. “Memang nggak salah kalau papa merestui hubungan kalian berdua.”
Aku terkesiap, bagaimana mereka bisa ada di sini. Aku menoleh ke arah Dimas, kulihat dia tersenyum. Aku menoleh lagi ke papa. Meminta penjelasan.
“Wah, tampaknya ada yang sedang bingung nih. Jadi begini nak Vina. Dimas ini memang sudah merencanakan semua ini. Sebelumnya Dimas sudah meminta restu ke Om, dan ke keluarga nak Vina. Dan kami merestui kalian.” Papanya Dimas mulai membuka suara.
“Itu benar, Vin. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Bahkan, jika kita menikah besok pun semuanya sudah siap.”
“Besok?” mataku membulat tak percaya. “Nggak ah, itu terlalu cepat. Aku nggak mau.”
Dimas terkekeh, “lho kemarin siapa yang menuntut kejelasan hubungan? Kamu kan? Kan kalau sudah menikah hubungan kita jadi jelas. Sangat jelas malah.” Pipiku merona karena malu dan pecahlah gelak tawa keluarga kami. Benar-benar saat yang membahagiakan.
Selesai J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar