Minggu, 28 Juni 2015

Cerpen: Rahasia Hati



Rahasia Hati
Karya: Efiana Efi
Dalam keheningan malam, entah mengapa, aku hanya mengingat satu orang. Di antara rintik air hujan, entah mengapa, aku hanya mengingat satu nama. Bukan karena namanya mudah diingat, bukan karena namanya indah, tentu saja bukan karena itu, tapi karena nama itu sudah terlalu lama tersimpan dalam hatiku, benar-benar lama. Sampai-sampai ia telah menjadi prasasti dalam hatiku. Yang bisa jadi tak akan pernah hilang karena sangat sulit untuk menghapusnya. Benar-benar sulit. Bahkan, pisau yang paling tajam pun tak akan sanggup memisahkannya dari hatiku.
Entahlah, mungkin suatu saat nanti, akan kutemukan cara untuk menghilangkannya, benar-benar menghilangkannya, sehingga nama itu benar-benar hilang. Tanpa bekas. Ah. Kenapa harus orang itu, kenapa aku benar-benar sulit untuk menghilangkan bayang-bayangnya? Tapi aku tak bisa membiarkan semuanya terus begini. Aku harus meminta kepastian, aku ini wanita, aku tak bisa menjalani hubungan seperti ini. Tapi bagaimana kalau akhirnya kenyataan tak seindah bayangku? Apa aku bisa benar-benar menghilangkan nama itu dari dalam hatiku? Apa suatu saat nanti rahasia hatinya bisa terkuak?
***
“Dim, aku mau tanya, boleh?” aku ragu-ragu bertanya, sudah lama aku memendam ini semua. Semuanya harus terjawab saat ini juga.
Dimas menatapku heran, dia meletakkan sendok yang dipegangnya. “Tanya apa?” Aku terdiam, perlu keberanian besar untuk menanyakan semua ini. Aku menarik napas, menghembuskannya.
“Kita ini sebenarnya apa? Apa kita cuma teman? Aku ini wanita, aku butuh kejelasan.” Dia tersentak, aku menunduk, kumainkan ujung sedotanku untuk mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba datang. Beberapa detik berlalu dengan lengang, dia terlihat gelisah.
“Vin.” tiba-tiba ia membuka suara, aku mendongak menatap matanya. Memutuskan untuk menunggu kalimatnya lebih lanjut. “Kenapa kamu tanya seperti itu?” Ah, lagi-lagi pertanyaan itu. Kenapa dia selalu mengalihkan perhatian? Kenapa?! Tentu saja karena aku wanita, aku butuh status. Darahku seakan mau mendidih.
 “Sudahlah, aku sudah menduga kalau jawabanmu akan seperti itu,” Ucapku tak senang.
“Hei, jangan marah dulu.”
“Aku lelah, mau pulang saja.”
“Kita kan baru bertemu sebentar,” katanya berusaha mencegahku beranjak.
“Mau apa lagi? Aku capek, ingin pulang.” Dadaku semakin sesak. Napasku mulai naik turun. Aku bergegas melangkah. Dia mengejarku, berusaha mencegahku untuk pergi.
“Aku sudah cukup kenyang dengan kata-kata yang sama terus menerus! Nanti kalau ada kata-kata lain baru temui aku!” kataku keras. Sudah tak dapat kutahan lagi. Dadaku semakin sakit. Napasku memburu satu-satu. Oh Tuhan, kenapa harus kambuh di saat seperti ini? Salahku sendiri, tak menghiraukan perkataan dokter untuk tak mudah terpancing emosi. Aku masih sempat melihatnya panik mengguncang tubuhku yang merosot di jalanan. Lalu semuanya gelap.
***
Pelan - pelan kubuka mataku, bau obat langsung tercium. Aku di rumah sakit? Kupandangi sekelilingku, aku melihatnya tertidur di kursi, wajahnya damai, benar-benar damai. Aku mencintainya sepenuh hatiku, tapi .. aku sendiri tak tahu apa yang dia rasakan terhadapku. Dia selama ini memang perhatian, tapi, dia tak pernah sekali pun mengucapkan kata cinta.
Bahkan, sekedar mengatakan kata-kata indah pun tak pernah. Sosoknya benar-benar tak bisa ditebak. Tapi? Apakah aku bisa terus bertahan? Aku pun butuh kepastian. Kami sudah saling mengenal 5 tahun. Itu bukan waktu yang sebentar. Kupandangi lagi wajahnya, ah, aku benar-benar tak bisa kehilangan Dimas. Aku mengalihkan pandanganku, mencoba menahan air mata yang akan menetes.
“Kamu sudah siuman, Vin?” aku menoleh ke sumber suara, ternyata Dimas sudah bangun, dia tersenyum manis.
“Sudah,” jawabku belagak sok cuek. Dia terdiam, entah apa yang ada di pikirannya. Tak berapa lama, dia beranjak dari tempat duduknya.
“Cepat sembuh ya, Vin. Aku pergi dulu. Aku ada urusan.” Dimas melangkah ke luar. Sedangkan aku terdiam, di saat seperti ini dia meninggalkanku?! Aku ini berarti nggak sih bagi dia?!, Ah sudahlah! Berarti aku memang harus melupakan dia, pikirku dalam hati.
***
 “Vin, nanti sore aku tunggu di taman biasa ya!” Aku terkesiap, menoleh ke sumber suara. Kulihat di sana Dimas tersenyum.
“Mau ngapain?” tanyaku, acuh tak acuh.
“Nanti kamu pasti tahu sendiri. Jam 3 sore oke?” tanyanya penuh harap.
“Ya,” jawabku datar.
“Aku pergi dulu ya! See you. Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikumsalam.”
 Hari itu berlalu seperti biasanya. Meski pun, aku setengah mati berusaha menahan rasa penasaranku, tapi tetap saja masih penasaran.
“Kira-kira nanti ada apa ya?” gumamku seorang diri.
“Hayo mikirin apa?”
Aku tersentak, ah, kiranya aku melamun tadi. “Ah, kamu, Don! Aku kaget tahu!”
 “Haha, maaf-maaf, habisnya sayangku ini dari tadi melamun terus sih! Ada apa sih?” tanyanya dengan nada sok manis, sok imut.
“Idihh, siapa kamu manggil aku sayang-sayang? Jangan kepo deh! Ini bukan urusan kamu!”
“Ah, sayang kok jahat gitu sih sama aku?! Aku kan sayang sama kamu. Aku care sama kamu.”
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuannya, kok ada ya orang seperti ini? Gampang banget bilang cinta, tapi gampang juga buat melupakan. Benar-benar manusia antik deh. Tapi gedeg juga lama-lama. Perasaan baru sebulan lalu dia gencar banget mengejar Liza, temen kerjaku, eh setelah Lizanya nolak dia habis-habisan, dia mendekat ke aku! Illfeel! Orang kayak dia benar-benar buat illfeel deh !
Mending-mending Dimas, walau pun nggak pernah bilang cinta, tapi dia nggak pernah mengumbar cinta ke semua cewek. Hihh, mending aku pergi aja deh! Aku pun melangkah ke luar meninggalkan manusia antik abad ini--Doni.
“Eh sayang kok pergi sih?! Kok akunya dicuekin?” Doni berusaha mengejarku. Mengekor di belakangku. Aku berhenti, menoleh ke belakang. Doni tersenyum.
“Jangan mengekor di belakangku! Aku mau ada urusan!” Senyum Doni menciut, lalu aku meninggalkannya sendirian. Aku mempercepat langkahku, tak berapa lama, aku sampai di taman. Kulihat Dimas sudah duduk di kursi taman.
“Sudah lama?” tanyaku basa basi.
“Nggak, baru aja kok.” Dimas tersenyum. Keheningan tercipta beberapa saat.
“Vin?”
 “Ya.” Aku menoleh ke arahnya. Dimas tersenyum lagi. Ah, ini terasa aneh. Ada apa?!
“Aku mau bilang sesuatu boleh?”
“Tentu saja boleh. Apa?” hatiku semakin berdebar, apa dia mau bilang dia cinta sama aku? Harapanku melambung ke langit.
“Aku minta maaf, selama ini aku selalu diam. Karena aku nunggu saat yang tepat buat bilang ini.” Dia menarik napas. Kulihat dia gugup, aku tak sabar menunggu kalimatnya lebih lanjut.
“Aku tahu kamu sering bertanya-tanya apa hubungan kita. Aku tahu meski pun kadang kamu tanya itu secara nggak langsung. Aku tahu.” Pandangan Dimas lurus ke depan. Aku semakin tidak sabar.
“Lalu apa? Kenapa kamu nggak pernah jawab pertanyaanku? Apa kita ini cuma teman?” Air mataku tak terasa menetes.
Dia menoleh ke arahku, “jangan menangis. Apalagi karena aku.” Pandangan Dimas beralih ke depan lagi. “Aku cuma mau bilang...” Bilang apa, Dim? Bilang apa?
 “Aku mau menikah.” Aku tersentak. Jadi, kami ini cuma teman?! Jadi perhatiannya selama ini cuma sebagai teman?!
“Ka-pan?” tanyaku parau. Kenapa secepat ini?! Jadi penantianku selama ini cuma sia-sia?! Iya sia-sia!!. Rasanya aku seperti terjatuh dari langit, sakit!.
“Secepatnya!” dia tersenyum. Aku tak sanggup lagi. Air mataku mengalir semakin deras. Dia menoleh ke arahku dan tersenyum! Kenapa dia tersenyum?! Kenapa!
“Kenapa kamu tersenyum, Dim? Kamu senang ya melihat aku seperti ini! Iya? Kamu senang kan! Teman macam apa kamu? Apa kamu nggak tahu, aku ini sayang sama kamu, aku cinta sama kamu! Selama ini aku rela menunggu kamu! Tapi apa?! Kamu malah kayak gini! Kenapa kamu nggak bilang dari awal?” Dimas terdiam, aku mengusap air mataku. “Tatap aku, Dim! Jawab aku!” ]
Dimas menoleh ke arahku. “Karena aku belum siap, Vin, aku belum siap.”
“Tapi Dim, kalau kamu bilang dari awal, aku nggak sesakit ini!” Ah. Sial! Dadaku sakit lagi. Bertahan, Vi. Bertahan! “Maaf.” “Maaf? Cuma maaf, ah, sudahlah, aku mau pulang!” aku beranjak dari tempat dudukku.
Dimas menahanku. “Dengarkan aku dulu, Vin!”
“Semua penjelasanmu sudah nggak berarti lagi.” Aku mengusap air mataku. Mencoba menahan rasa sakit di hatiku. Melangkah pergi!
“Vin!” Dimas berteriak. Aku tetap berjalan menjauhinya. Dia berlari mengejarku, berlutut di depanku. “Will you marry me?!” katanya sambil mengulurkan sebuah kotak berisi cincin. Aku terdiam, apa maksudnya ini?! Bukankah dia akan menikah?
“Maksud kamu apa?!” tanyaku dengan nada tinggi.
Dimas tersenyum. “Aku memang akan menikah, tapi aku akan menikah dengan orang yang cantik, baik, yang selama 5 tahun ini setia mendampingi aku. Setia mendengar keluh kesahku. Dan orang itu kamu. Will you marry me?” Aku? Dia melamarku? Aku lagi nggak mimpi kan? Kucubit pipiku. Sakit.
“Kamu melamar aku? Jadi, selama ini kamu juga cinta sama aku?”
Dimas mengangguk, “Iya. Aku cinta sama kamu, bahkan, sejak kita pertama kali bertemu. Tapi aku menunggu saat yang tepat untuk ini semua. Aku mempersiapkan diriku untuk orang sebaik kamu. Kita sudah dewasa, nggak ada waktu buat pacaran, yang notabennya cuma main-main saja. Aku yakin bahwa kamu adalah calon istri yang baik. Yang sholehah, karena itu aku memilihmu. Aku cinta kamu karena Allah. Aku minta maaf ya, aku waktu itu meninggalkan kamu di rumah sakit. Waktu itu aku sedang mempersiapkan semuanya. Terutama mempersiapkan cincin ini.” Aku terdiam, bingung mau berkata apa, semua ini benar-benar membahagiakan untukku. Rasa sesak di dadaku seperti menguap begitu saja. “Will you marry me, Vin?” tanyanya sekali lagi.
 “Yes, i will,” Jawabku mantap. Aku tersenyum, dia pun juga. Saat aku menerima cincin darinya, tiba-tiba ada suara tepuk tangan di belakangku. Aku menoleh, kulihat di sana ada banyak orang, termasuk kedua orang tua kami. Mataku membulat tak percaya.
“Kami sudah lihat semuanya lho, kisah cinta kalian benar-benar mengharukan. Terutama kejadian barusan!” Papaku menyeka kedua matanya yang berair. “Memang nggak salah kalau papa merestui hubungan kalian berdua.”
Aku terkesiap, bagaimana mereka bisa ada di sini. Aku menoleh ke arah Dimas, kulihat dia tersenyum. Aku menoleh lagi ke papa. Meminta penjelasan.
“Wah, tampaknya ada yang sedang bingung nih. Jadi begini nak Vina. Dimas ini memang sudah merencanakan semua ini. Sebelumnya Dimas sudah meminta restu ke Om, dan ke keluarga nak Vina. Dan kami merestui kalian.” Papanya Dimas mulai membuka suara.
“Itu benar, Vin. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Bahkan, jika kita menikah besok pun semuanya sudah siap.”
“Besok?” mataku membulat tak percaya. “Nggak ah, itu terlalu cepat. Aku nggak mau.”
Dimas terkekeh, “lho kemarin siapa yang menuntut kejelasan hubungan? Kamu kan? Kan kalau sudah menikah hubungan kita jadi jelas. Sangat jelas malah.” Pipiku merona karena malu dan pecahlah gelak tawa keluarga kami. Benar-benar saat yang membahagiakan.
Selesai J

Cerpen: Sebuah Perjalanan

Sebuah Perjalanan
Karya: Efiana Efi

Duka masa lalunyalah yang membawa ia ke sini. Ke tempat yang jauh dari gemerlapnya kota. Flores, di tempat dengan sejuta pesona ini ia akan memulai hidupnya dari awal. Berharap, masa lalu itu tak akan menghantuinya lagi. Berharap rasa bersalah itu tak akan membayanginya lagi.
“Terima kasih sudah datang, Nak.” Laki-laki paruh baya menyambut kedatangannya. Menjabat tangannya erat. Raut mukanya ramah. Dimas tersenyum. Mereka berjalan beriringan, menuju ke SMA satu-satunya di tempat ini. Di SMA inilah Dimas akan membuka lembaran baru di hidupnya, menjadi seorang guru.
***
“Kakek?Apa Kakek pernah jatuh cinta?”Tiara bertanya tiba-tiba.Pipinya merona, entahlah, mungkin virus cinta sedang menyerang dirinya.
“Tentu saja.Kau tahu, Nak?Di dunia ini banyak sekali jenis kisah cinta. Kau tahu cerita Cupid, si Dewa Cinta itu?” Kakek memulai bercerita. Tiara antusias mendengarkan. Cerita Kakek selalu menarik.
“Tidak, Kek. Ayo ceritakan!”Tiara yang masih berumur 12-an memohon-mohon.
Kakek tersenyum “Cupid adalah dewa cinta di mitologi Yunani. Dia membawa panah, nah, menariknya panah itu bisa membuat 2 orang yang tak saling mengenal atau saling membenci sekalipun jatuh cinta. Tapi Nak, ternyata si Dewa cinta ini pun pernah jatuh cinta, dengan wanita biasa pula.” Tiara mengerjap-ngerjap, ternyata setiap makhluk bisa jatuh cinta ya, tak peduli dia dewa sekalipun.
“Itulah, Nak. Kita sendiri tak tahu kapan cinta itu datang. Tapi kau harus ingat nasehat dari orang tua ini, jangan terlalu mencintai seseorang, karena kalau kita mencintainya terlalu banyak, bisa jadi, besok-besok kita akan membencinya terlalu banyak pula. Cinta terbaik adalah cinta yang cukup, tak terlalu banyak, tak terlalu sedikit.” Tiara mengangguk, ia tidak terlalu paham, tapi esok lusa ia akan membuktikannya sendiri.
***
Tiara duduk bersama Kakek di teras rumah, berbincang tentang banyak hal. Dua tiga kali tertawa kecil. Membuat rumah panggung sederhana ini terasa lebih hidup. Umur Tiara sudah 15 sekarang. Sebentar lagi ia akan melanjutkan ke SMA. Dan itu artinya dia harus meninggalkan Kakeknya sendirian di Kampung Komodo. Di kampung ini, hanya ada SD dan SMP. Itulah kenapa jarang sekali anak yang melanjutkan sekolah ke SMA.
Bagi mereka, pendidikan tak cukup penting, karena toh pada akhirnya mereka akan menjadi nelayan juga. Sama seperti bapak ibunya. Tapi pandangan Kakek berbeda, beliau bilang pendidikan itu amat penting. Perintah untuk menuntut ilmu tertulis jelas dalam kitab suci.
Ema1Inemu2 meninggal saat kau masih kecil, Nak. Kecelakaan kapal,” jawab Kakek saat suatu hari Tiara bertanya tentang orang tuanya. “Orang tuamu pebisnis yang hebat. Kau pasti sering bertanya-tanya, kenapa kulitmu berbeda dengan yang lain. Itu karena kau tidak dilahirkan di tempat ini, Nak. Kau lahir di kota yang sangat jauh dari sini, ribuan kilometer jaraknya.” Muka Kakek muram, Tiara memandanginya lekat-lekat. Berjanji dalam hati tak akan bertanya-tanya lagi.
“Kakek, apa aku harus melanjutkan sekolah di Flores? Kata Kakek, kita bisa menuntut ilmu di mana saja, dan lewat apa saja. Berarti tak apa-apa kan kalau aku belajar di sini saja? Tak usah melanjutkan?” tanya Tiara.
Kakek yang sedang memperbaiki jala menghentikan pekerjaannnya. Menatap cucunya lekat-lekat. “Tidak, Nak. Bukankah Kakek sudah pernah mengatakan padamu? Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina. Di sini tak ada sarana yang memadai untuk sekolahmu. Itulah alasan kenapa kamu harus melanjutkan.”
“Tapi Kek, jika aku pergi itu artinya Kakek akan tinggal sendiri di sini.”
“Tak apa, Nak. Orang tua ini masih punya tenaga untuk hidup mandiri. Kau tidak lihat tulang Kakek yang masih kuat ini?” Kakek bergaya bak olahragawan. Tiara tertawa. Lalu memeluk Kakeknya spontan. Berjanji dalam hati bahwa suatu saat nanti ia akan membahagiakan Kakeknya.
1Bapak2Ibumu
 
***
“Teman-teman, perkenalkan, ngalit nggaku3 Dimas, kakak guru Matematika, Fisika, dan Kimia.” Dimas memperkenalkan dirinya di depan kelas. Jangan heran kenapa dia mengajar 3 pelajaran sekaligus. Sma ini kekurangan guru pengajar, itulah kenapa guru di sini 'dipaksa' untuk multitalenta, mengajar beberapa pelajaran sekaligus.
Pendidikan di daerah Flores terlalu minim, gedung sekolah ini saja sudah usang. Fasilitasnya kurang memadai, hanya ada 5 ruangan di sekolah ini. 1 ruangan guru, yang juga berfungsi sebagai perpustakaan, 3 ruang kelas--masing-masing dihuni 40 siswa dan 1 kamar mandi. Tapi jangan salah, meskipun fasilitasnya tak memadai, tapi lulusannya amat berkualitas.Gubernur NTT saja alummi sini, wuihh hebat!
“Teman-teman, Botang4?” Dimas mencoba berbicara dengan berbicara dengan bahasa Riung.
Lawe-lawe5.”Muridnya menjawab serempak.
Tiara menyikut tangan teman sebelahnya.“Aksennya lucu ya,” kata Tiara.
“Ststst, kak Dimas memang tak berasal dari sini. Dia berasal dari tempat jauh.” Temannya berbisik menjelaskan. Tiara nyengir, tentu saja dia tahu itu. Kemudian pandangan beralih ke papan tulis, mendengarkan dengan saksama penjelasan Dimas.
“Teman-teman, meskipun fasilitas di sini kurang memadai, kita tetap harus semangat. Kita harus buktikan eksistensi kita. Buktikan bahwa kita bisa menjadi kebanggaan Indonesia.” Murid-muridnya mengangguk. Dimas tersenyum, ia sadar betapa pentingnya motivasi untuk mereka semua. Agar mereka tetap bersemangat dalam keterbatasan.
“Kakak, saya boleh bertanya?” Tiara mengacungkan tangan.
Dimas mengangguk,”tentu saja boleh.”
“Apa motivasi kakak untuk mengajar di sini? kata teman-teman kakak berasal dari kota besar.”
Dimas tersenyum tanggung, dia tak mungkin menjawab bahwa duka masa lalu itulah yang membawanya ke sini.
“Selama ini pemerintah kurang memperhatikan kalian. Itulah kenapa saya datang ke sini. Kakak ingin menjadikan kalian kebanggaan bangsa.” Murid-muridnya spontan bertepuk tangan. Mereka berbisik-bisik. Guru ini berbeda dengan guru yang lain. Dia tulus.
***
Sungguh betapa besar bara cinta kupendam dalam jiwa,
tapi apalah daya tak kuasa kuungkapkan.
Biarlah kupungut harapan yang tersisa.
Dan kusimpan dalam diam.
Kelas itu riuh oleh tepuk tangan, setelah Tiara membacakan puisi spontan hasil karyanya. Anak ini sungguh berbakat.
“Terima kasih, Tiara. Silahkan duduk.” Pak Edo kemudian meminta Ester untuk maju ke depan. Membacakan puisi karangannya. Kelas kembali riuh oleh tepuk tangan. Puisi yang dibacakan semuanya bagus, satu dua malah terdengar lucu. Lewat tengah hari semua puisi telah dibacakan. Tiara bersiap-siap untuk pulang.
“Puisimu sangat bagus, Tiara.” Tiba-tiba Dimas sudah berada di sampingnya. Tiara kaget.
“Kakak mendengar puisiku?”
“Iya. Kakak kebetulan lewat kelasmu dan mendengar ada seseorang yang tengah membacakan puisinya. Indah sekali.”
“Terima kasih.” Pipi Tiara merona karena malu, ia tak menyangka bahwa ia akan dipuji seperti itu. Dan lagi-lagi Tiara merasakan jantungnya berdebar-debar. Astaga! Tidak seharusnya ia merasakan itu.
“Ngomong-ngomong, aksen kakak sewaktu ngomong pakai bahasa Flores kemarin lucu.” Tiara nyengir. Sedangkan pemuda yang berusia 28 tahun itu tertawa.
“Hahaha. Maklumlah, kakak baru beberapa minggu di sini, belum paham betul bahasa daerah. Tiara mau melatih kakak agar bisa bahasa Flores?” Dimas bertanya serius.
3Nama saya4Apa kabar?5Baik
4 Ibu
 
“Tentu saja! Ayo kita belajar sekarang,”katanya bersemangat. Dimas tersenyum geli. Semangat sekali anak ini. “Di Flores ini banyak sekali bahasa daerahnya, kak. Bahkan, bisa jadi, dalam satu kecamatan saja sudah berbeda,” ujar Tiara yang didaulat menjadi guru. Dimas mendengarkan dengan serius.
“Bahasa yang kemarin Kakak gunakan itu bahasa setempat, bahasa Riung. Beberapa kosa kata mirip dengan Bahasa Indonesia, jadi ini sedikit mudah. Baiklah, kita mulai. Awalan B berubah menjadi W. Misal batu menjadi watu, bibir menjadi wiwir, beli menjadi weli.” Dimas mengangguk.
“Kalau begitu, bulan menjadi wulan, batas menjadi watas? Begitu?”
“Benar. Kakak memang pintar.”
“Siapa dulu dong gurunya? Tiara gitu.”
“Haha. Sudahlah, Kak. Itu baru dasarnya. Tentu saja mudah.”
“Hahaha. Eh Tiara kamu jangan panggil aku kakak. Itu kesannya terlalu formal. Panggil saja abang. Oke?” Tiara mengangguk. Boleh juga.
***
“Teman-teman.Wilayah Indonesia ini sangat luas, Flores hanya sebagian kecil dari wilayah Indonesia.Nah, karena itu, coba bayangkan kalau pemerintah harus mengurus semua wilayah ini,” Dimas melingkari semua wilayah Indonesia yang digambarnya, “tanpa terlewatkan sedikitpun.Itu tak mungkin bukan?”Muridnya mengangguk-angguk.
“Tapi kan ada wakil-wakil per provinsi, lalu setiap provinsi ada wakil-wakil per kabupaten.Setiap kabupaten ada wakil-wakil per kecamatan, dan seterusnya.Seharusnya mereka bisa mengakomodasi semua kepentingan rakyat,” sanggah Tiara.Satu kelas berbisik-bisik, benar juga.
“Kamu benar, Tiara. Tapi kita juga harus tahu, keinginan orang-orang itu tak selalu sama. Kita lihat saja kelas ini.Di kelas yang hanya berjumlah 40 ini saja ada beragam pendapat. Sewaktu pemilihan ketua kelas kemarin, si A memilih B, si C memilih D dengan pertimbangannya sendiri-sendiri. Nah, apalagi negara, negara sudah berusaha memenuhi keinginan warganya tapi apa boleh buat? Tentu saja tidak semua keinginan di penuhi.Anggaran negara terbatas, itulah kenapa, meskipun sudah digalakkan pemerataan pembangunan, pemerataan pendidikan.Tetap saja, tidak semua merata. Tapi kabar baiknya, meskipun fasilitas sekolah kita tak sebaik sekolah-sekolah di kota. Kita masih bisa menghasilkan lulusan yang berkualitas.”Dimas berhenti sejenak.
“ Jadi, jangan sampai hanya karena kekurangan fasilitas, ataupun kekurangan yang lain kita lantas patah semangat. Tidak! Tentu saja tidak boleh.Saya yakin, kalian yang ada di sini pasti berkeinginan kuat untuk maju.Oleh karena itu, marilah kita buktikan. Bahwa kita bisa! Kita akan buat Ema dan Ine kalian bangga dengan prestasi kita,”lanjutnya.
Satu kelas bertepuk tangan.Semangat mereka menyala-nyala. Dimas tersenyum, ia telah berhasil menumbuhkan semangat pada anak didiknya.
“Abang hebat!” kata Tiara seusai pulang sekolah.
“Hebat bagaimana?” Dimas bertanya, pura-pura tidak mengerti.
“Abang sudah berhasil membuat kami bersemangat menuntut ilmu. Motivasi abang itu sangat berguna untuk kami. Abang tahu? Di kampungku, Kampung Komodo, tidak banyak anak yang mau melanjutkan sekolah. Kata mereka, sekolah itu tak penting karena toh pada akhirnya mereka akan tetap jadi nelayan juga atau paling banter jadi perajin cenderamata komodo. Tapi akan kubuktikan bahwa yang mereka katakan itu salah! Kelak aku akan jadi dokter. Kelak aku akan membawa kampungku menjadi kampung yang lebih baik!” Kata Tiara berapi-api.
Dimas menepuk-nepuk bahu Tiara. Lantas tersenyum. Tiara membalas senyumannya.Mereka bertatapan. Dimas bertanya dalam hati, Ah! Apakah, apakah kalau dia tahu semuanya dia akan tetap menatapku seperti ini? Semoga saja.
***
“Kakek, aku mau bertanya?”Tiara membuka pembicaraan. Ini kunjungannya yang ke sekian kali sejak ia sekolah di Flores.
“Apa Tiara? Tanya apa?”
Tiara mengambil napas, menghembuskannya, berkali-kali, ia memantabkan hatinya, ia harus bertanya, ia harus! Kakek memandangnya lekat-lekat, ia tahu, ada sesuatu yang amat penting.
“Kalau Tiara jatuh cinta dengan seseorang, apakah itu salah, Kek?”
“Tentu saja boleh, sayang.Ternyata cucu Kakek ini sudah besar.Sudah jatuh cinta.”
“Tapi Kek, apa tidak papa kalau jatuh cinta pada orang yang lebih tua?”Tiara bertanya, hati-hati.
“Tak apa-apa, Nak.Cinta itu tak mengenal batasan umur.”
“Termasuk jika ada murid yang mencintai gurunya sendiri?” Kakek terkejut, tak menyangka bahwa cucunya ini akan bertanya demikian.
“Iya, Nak. Kau mau mendengar cerita Kakek?”Tiara mengangguk, antusias.
“Cinta itu tak mengenal batasan umur, Nak.Dulu, dulu sekali, pernah ada seorang guru yang mencintai muridnya sendiri, namanya Peter Abelard.Tapi sayang, Nak, cinta mereka dipisahkan oleh pamannya.Tapi kau tahu?Cinta mereka tetap abadi. Bahkan, hingga saat ini surat cinta yang mereka tulis saat terpisah diyakini masih ada. Itulah, Nak. Cinta sejati itu selalu menemukan jalan.Tapi kau harus ingat.Cinta itu tak harus memiliki, kau tak bisa memaksa seseorang untuk mencintaimu.”Tiara mengangguk.
“Nah, sekarang ceritakan pada Kakek tentang guru yang membuatmu jatuh cinta itu.” Tiara tersenyum malu-malu, lalu ia menceritakan semuanya, mulai dari rasa kagumnya pada sosok Dimas, lalu ketika berlahan rasa kagum itu berubah menjadi cinta.
Tiara sibuk bercerita sampai tak menyadari bahwa Kakeknya menghela napas saat ia menyebut nama Dimas.
“Ah ya, Nak. Daritadi kau belum bercerita tentang sekolahmu bukan? Bagaimana sekolahmu kemarin? Menyenangkan?”
“Tentu saja! Lihat, Kek. Aku mendapat nilai 100 di ulangan matematikaku.” Tiara menunjukkan kertas ulangannya, tersenyum bangga.
“Bagus! Cucu Kakek ini memang hebat.” Kakek menatap Tiara bangga, “tapi semoga ini bukan hanya di pelajaran matematika, fisika, kimia saja.” Kakek tersenyum jail.
Tiara tersenyum malu-malu. “Ihh. Kakek! Kakek pikir ini karena Bang Dimas semata? Tentu saja tidak, Kek. Di pelajaran yang lain aku juga sungguh-sungguh.” Tiara mengerucutkan bibir. Mukanya jadi terlihat lucu. Kakek tertawa lepas. Menertawakan wajah cucunya ini.
***
“Tiara! Nanti pulang sekolah temui abang di tempat biasa. Ada sesuatu yang mau abang ceritakan,” kata Dimas saat Tiara baru mau masuk kelas.
Tiara mengangguk, “oke, Bang!”. Lalu dia masuk ke kelas. Meletakkan tasnya.
“Tiara, sejak kapan kau dekat dengan Kak Dimas? Dan sejak kapan kau memanggilnya abang?” Melati, teman sebangkunya bertanya penasaran. Tiara tersenyum, lihatlah muka penasaran Melati lucu sekali.
“Sudah lama. Abang Dimas sering memintaku untuk mengajarinya bahasa Riung.”
“Apa? Kenapa kau tak pernah bilang-bilang? Tahu gitu kan, aku juga ikut mengajari Bang Dimas. Kan lumayan, aku bisa berlama-lama memandangi wajahnya yang ganteng itu.” Pandangan Melati menerawang ke depan.
“Aihh! Dasar kau ini!” Tiara mencubit Melati, menghentikan lamunannya, Melati nyengir.
“Kamu suka sama Bang Dimas ya?” Tiara bertanya tiba-tiba.
“Tentu saja! Hampir semua siswi di sekolah ini mengidolakan dia.” Tiara kaget, hatinya terasa panas. Dia berusaha untuk tetap tenang, sudahlah, setiap orang berhak untuk mencintainya, tapi pasti hanya ada satu orang yang dicintai Bang Dimas. Dan Tiara berharap itu dirinya, setidaknya meskipun umur mereka terpaut 12 tahun, tapi selama ini Bang Dimas seperti punya perhatian khusus dengannya.
“Sudah lama, Bang?” Tiara mendekati Dimas, napasnya terengah-engah. Dimas menoleh, tersenyum.
“Tidak. Baru saja kok. Duduk sini.” Ia menunjuk bangku di sampingnya.
“Tiara tahu nggak? Abang sangat menyayangi Tiara.”
Tiara tersenyum, “benarkah?” Hatinya seperti melayang ke udara.
“Tentu saja. Tiara sudah abang anggap sebagai adik sendiri.” Senyum Tiara mendadak menghilang. Adik?! Dia ingin yang lebih dari itu. Dia merasakan sakit di hatinya. Jadi perhatian itu hanya karena Dimas menganggapnya sebagai adik?
“Nah, Dik. Kau pernah bertanya apa motivasi abang datang ke sini kan?” Tiara mengangguk, ya, dulu dia pernah menanyakan itu dan bukankah sudah dijawab?
“Waktu itu abang sudah menjawabnya bukan? Sebenarnya itu bukan motivasi utama abang datang ke sini.” Dimas menghela napas, ia memandang Tiara lekat-lekat.
“Maksud abang? Lalu apa motivasi utamanya?” Tanya Tiara, ia menatap Dimas lamat-lamat. Ia sejenak melupakan rasa sakit di hatinya.
Dimas mengambil napas, menghembuskannya. Ia menahan gemuruh di hatinya.
“Duka masa lalu itu, duka masa lalu itu yang membawa abang ke mari, berharap bisa memulai semuanya dari awal.” Tiara menatap abangnya ini, duka masa lalu apa?
“Apa Tiara rindu dengan orang tua Tiara?”lanjutnya
“Tentu saja, bang.Tapi sayang mereka sudah meninggal.Kecelakaan kapal saat Tiara umur 3 tahun.”Tiara menyeka ujung matanya yang berair.
“Maafkan abang, Tiara.”Dimas mengelus-elus rambut Tiara.
“Tak apa, Bang. Tiara sudah biasa ditanyai begini.” Tiara berusaha untuk tersenyum.
“Tidak Tiara. Abang minta maaf untuk hal lain,” pandangan Dimas beralih ke depan. Lihatlah bahkan pemandangan yang indah ini pun tak mampu menyapu penyesalan dalam hatinya.
“Maksud abang?” Tiara memandang orang di sampingnya ini dengan pandangan heran. Matanya mencoba mencari-cari.
“Dulu, saat abang baru berumur 16 tahun, abang sama sepertimu, semangat menggapai impian. Tapi sayang, abang tak punya biaya untuk sekolah. Lalu, orang itu, orang itu menyekolahkan abang, dia amat baik. Membuat abang sangat bersyukur mengenal orang seperti dia.” Dimas berhenti sejenak, dahi Tiara terlipat, ia tidak mengerti.
“Tapi ternyata abang salah, Tiara.Abang sepenuhnya salah. Orang itu licik, ia hanya ingin memanfaatkan abang. Abang yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi hanya mengikuti keinginannya. Termasuk saat ia menyuruh Abang untuk meletakkan bom di kapal itu. Katanya dia ingin menangkap orang jahat yang ada di kapal itu.”Bom?Kapal?Ribuan pertanyaan mendadak bermunculan di kepala Tiara.
“Tapi Tiara, abang sungguh tak menyangka bahwa itu hanya akal bulusnya untuk menyingkirkan lawan bisnisnya.”
“Tunggu!Apa maksud abang?”Tiara bertanya tak sabaran.Dimas menghembuskan napas.
“Aku minta maaf Tiara.Akulah yang menyebabkan orang tuamu meninggal.Tapi sungguh Tiara aku benar-benar tak tahu.Aku benar-benar bodoh waktu itu.”
“Tidak!Abang pasti berbohong.Orang tuaku meninggal karena kecelakaan kapal.Bukan dibunuh.”Tiara menggeleng-gelengkan kepalanya.Ini tak mungkin!
“Kelihatannya itu memang kecelakaan kapal tapi kau salah, orang itu sengaja menyettingnya sedemikian rupa sehingga tak ada yang tahu bahwa kapal itu tenggelam karena ledakan bom.”
Tangis Tiara meledak.Ia menjauh dari orang yang dipanggilnya abang itu.
“Kalau begitu kamu..kamu sudah membunuh orang tuaku. Kamu pembunuh!”Tiara berteriak.Air matanya berjatuhan satu per satu.Ia merasakan sakit di hatinya, lebih sakit dari kenyataan bahwa ia hanya dianggap adik.
“Tidak Tiara! Abang tak tahu. Kalau saja abang tahu, abang tak akan pernah meletakkan bom itu di situ. Maafkan, abang.”Dimas bersimpuh di hadapan Tiara.Tiara beringsut menjauh, dia tidak ingin berada dekat dengan pembunuh orang tuanya ini.Matanya menyala marah, dia tidak menyangka, orang yang selama ini dicintainya ternyata pembunuh orang tuanya.
“Pergi! Pergi! Pembunuh seperti kamu tak pantas berada di sini.”
“Tiara, abang mohon, maafkan aku!Aku hanya ingin meminta maaf.Aku tahu kau sangat marah padaku. Tentu saja kau berhak marah. Tapi kumohon, maafkan aku.”
“Aku .. aku tak akan pernah memaafkanmu.” Potong Tiara cepat, “dan orang sepertimu tak pantas kupanggil abang,” kata Tiara tajam.
Tiara berlari menjauhi Dimas. Meninggalkannya sendiri. Kenyataan ini begitu sulit untuk diterimanya. Orang yang selama ini dicintainya ternyata pembunuh! Tiara terus berlari, tanpa peduli bahwa air matanya tak berhenti dari tadi.
 ***
Tiara mengetuk pintu rumah itu. Air mata masih meleleh di pipinya. Segera setelah pintu itu dibuka, ia menghambur ke pelukan Kakek. Kakek terkejut, namun, tak banyak bertanya. Lalu mempersilahkan Tiara masuk dan membuatkannya teh hangat. Tiara menerima teh itu dengan tangan bergetar.
Lihatlah! Bahkan ia tak merasakan hangatnya teh buatan Kakek. Tapi ia merasakan yang satu itu. Sakit sekali! Keduanya terdiam.Kakek hendak bertanya namun urung.Biarlah cucunya tenang dulu.
“Kek!Kakek sepenuhnya benar. Kita tak boleh mencintai seseorang terlalu banyak, karena bisa jadi, besok-besok kita akan membencinya terlalu banyak pula. Kakek benar!”Tangis Tiara bertambah keras.Kakek beringsut mendekati Tiara.Mengelus-elus rambutnya.Berusaha menenangkan.
“Orang itu sudah membunuh ayah dan ibu, Kek!Orang itu jahat sekali.” Tiara menggigit bibir, berusaha membendung tangisnya. “Aku tak menyangka ia setega itu.”
Kakek menghela napas, ia sudah tahu kenyataan pahit itu, “sudahlah, Nak. Semuanya sudah terjadi, Nak Dimas juga sudah minta maaf kan?”
“Tidak Kek! Aku tidak akan memaafkannya meskipun ia meminta maaf seribu kali,” kata Tiara tajam. Di dadanya sudah tertanam rasa benci yang amat dalam. Kakeknya menghela napas.
“Sudahlah, Nak. Nak Dimas benar-benar tulus meminta maaf. Ia bahkan sudah menemui Kakek dan berlutut di hadapan Kakek.”
“Tunggu!” Tukas Tiara cepat, “jadi Kakek sudah tahu bahwa dia pembunuh Ema dan Ine? Lalu kenapa Kakek tak beritahu Tiara?”
“Maafkan Kakek. Nak Dimas bilang dia sendiri yang akan memberitahumu. Semuanya perlu waktu. Kita tak perlu menghakiminya, Nak. Sama sekali tak perlu. Lihatlah, dia sudah menerima akibatnya. Bertahun-tahun ia hidup dengan dibayang-bayangi rasa bersalah itu. Saat ia memutuskan pergi ke Flores, ia pikir ia bisa mulai semuanya dari awal. Tapi secara tak sengaja ia malah menemukanmu, seorang anak yang sangat berperan di masa lalunya. Dia tak sengaja mendengarmu berbicara bahwa kau tak terlahir di sini. Bahwa orang tuamu yang pebisnis meninggal karena kecelakaan kapal. Ia sangat terkejut, Nak. Tak menyangka bahwa ia bisa menemukanmu. Sejak itu dia berusaha mencari semua informasi tentangmu. Lalu ia menemui Kakek di sini. Meminta maaf. Hidup ini adalah sebuah perjalanan Nak, biarkanlah masa lalu tetap tertinggal di belakang. Meskipun itu menyakitkan, tapi ikhlaskanlah. Itu adalah skenario dari Allah. Dia pembuat skenario terbaik, paling baik.”
“Tapi kata maaf tak akan mengembalikan Ema dan Ine ke sini!” desis Tiara tajam.
“Itu benar, tapi kau tahu Nak? Memaafkan orang lain bukan berarti membenarkan perbuatannya. Tapi lebih ke menyadari bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan. Bahkan, seorang nabi sekalipun tak luput dari kesalahan. Kakek pernah bercerita padamu bukan?”
Tiara mengangguk lemah, “tapi kesalahannya terlalu besar Kek. Tiara sangat benci orang itu!”
“Kau tahu, Nak? Saat kita membenci seseorang, terkadang kita sampai melupakan hal-hal baik yang pernah ia lakukan. Bahkan meskipun hal baik itu besar, lebih besar dari kesalahannya.” Tiara memandang Kakek, tak mengerti.
“Baiklah, Kakek akan menceritakan sesuatu. Saat EmaInemu kecelakaan kapal. Orang tua ini sangat panik. Dan langsung menuju ke lokasi kejadian, saat itulah Kakek menemukanmu. Terapung-apung di lautan lepas bersama seorang pemuda yang mendekapmu erat. Punggung pemuda itu terbakar. Sayang, ketika Kakek mau menyelamatkanmu dan pemuda itu. Ombak besar datang, dekapan pemuda itu terlepas, Kakek berusaha keras menyelamatkanmu. Setelah kau selamat, Kakek berusaha menyelamatkan pemuda itu juga, tapi ternyata ia sudah menghilang di telan ombak.” Kakek menghentikan ceritanya, memandang Tiara sejenak.
“Kakek tak tahu pemuda itu selamat, sampai ia datang menemui Kakek.” Dahi Tiara mengernyit, apakah pemuda itu Dimas?
“Pemuda itu bernama Dimas Nak! Dia telah menyelamatkanmu. Sesaat setelah ia tahu bahwa ia hanya diperalat, ia berusaha menghentikan bom itu tapi sayang bom itu sudah tak dapat dihentikan lagi, lalu meledak. Dimas panik, saat itulah dia melihatmu. Ia berusaha menyelamatkanmu, sampai-sampai ia mengorbankan dirinya sendiri.”
Tiara terisak, ternyata Dimas tidak seburuk yang ia kira dan ternyata Dimas sudah menyelamatkan hidupnya. Suasana mendadak hening dan tiba-tiba terdengar isakan di sebelah mereka.
Tiara dan Kakek menoleh, ternyata Dimas sudah berada di situ sejak tadi. Dia memutuskan menyusul Tiara ke sini. Tiara menghambur ke pelukan Dimas.
“Aku sudah memaafkanmu, Bang. Terima kasih sudah menyelamatkanku,” kata Tiara tulus.
Dimas tersenyum, duka masa lalunya, penyesalannya perlahan-lahan menghilang. Berganti menjadi kebahagiaan. Begitu pula dengan Tiara, bertahun-tahun kemudian dia memutuskan untuk tetap membiarkan cinta itu di hatinya, tapi bukan lagi cinta seorang perempuan pada laki-laki tapi cinta seorang adik pada abangnya.
TAMAT